LAPORAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI
Di Bengkel MINI
MOTOR PEDAN KLATEN
Dari tanggal 7 Januari sampai dengan 31 Maret 2008
Disusun
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mengikuti Ujian Akhir Nasional
Di
SMK Pembangunan Karangmojo Gunungkidul
Tentang : SISTEM
PENDINGIN
Disusun oleh :
Nama : Muhtar Herianto
NIS :
282
Kelas : XI Otomotif
LEMBAGA PENDIDIKAN
MA’ARIF NAHDLATUL ULAMA DIY
SMK PEMBANGUNAN KARANGMOJO
GUNUNGKIDUL
2007/2008
PENGESAHAN
Laporan Praktik Kerja Industri
(Prakerin) yang dilaksanakan pada tanggal 7 januari sampai dengan 31 maret
2008, telah disetujui dan disahkan oleh pihak industri dan pihak sekolah pada:
Hari :
Tanggal :
Tempat : SMK Pembangunan Karangmojo Gunungkidul
MENGESAHKAN
Pembimbing Bengkel Pembimbing
I
Karbini
Qodri, A.Md
Pembimbing II Ketua
Jurusan
Harjono,
S.Pd Jumari, S.Pd
Mengetahui
Kepala
SMK Pembangunan Karangmojo
Gunungkidul
TUKIMIN, BA
NIP. 130925591
MOTTO
- Disiplin dan usaha adalah faktor keberhasilan
- Kegagalan adalah awal dari keberhasilan
- Pergunakan masa sehatmu sebelum masa sakitmu
- Tak ada bahaya yang lebih bahaya dari kebodohan
PERSEMBAHAN
Atas tersusunnya
laporan ini dipersembahkan kepada:
- SMK Pembangunan Karangmojo
- Orang tua yang telah membiayai
- Teman-teman kelas XI otmotif
KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan atas
kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga dapat
menyelesaikan Laporan Praktik Kerja Industri di bengkel “Mini Motor” Pedan
Klaten sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Praktik Kerja Industri sangat
membantu dan bertujuan untuk memenuhi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang wajib
dilaksanakan oleh seluruh siswa Sekolah Menengah Kejuruan.
Dalam kesempatan ini diucapkan
terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan
laporan ini, diantaranya ucapan terima kasih yang ditujukan kepada:
- Kepala SMK Pembangunan Karangmojo, Bapak Tukimin, B.A. yang telah memberikan izin melaksanakan Praktik Kerja Industri.
- Pimpinan bengkel Mini Motor yang telah mengizinkan dan telah memberikan bimbingan, arahan dan pengetahuan.
- Kepada para mekanik yang telah mengarahkan sehingga dapat melaksanakan Praktik Kerja Industri dengan benar.
- Kepada kedua orang tua tercinta yang telah mendukung dan membiayai dalam melaksanakan Praktik Kerja Industri.
- Dewan guru beserta karyawan SMK dan SMA Pembangunan Karangmojo.
- Bapak pembimbing akademis Praktik kerja industri:
a.
Qodri, A.Md
b.
Harjono, S.Pd
- Rekan-rekan kelas XI otomotif.
- Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam membantu baik materiil maupun spiritual.
Semoga amal baik semua pihak tersebut mendapat imbalan yang setimpal dari
ALLAH SWT.
Penulis berharap, semoga laporan ini
berguna dan bermanfaat bagi semua pihak. Akhir kata bahwa tiada karya yang
sempurna tanpa uluran tangan semua pihak yang telah membantu. Oleh karena itu,
kritik dan saran untuk kesempurnaan laporan ini senantiasa daharapkan oleh
penulis.
Karangmojo,………………2008
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………..i
HALAMAN
PENGESAHAN………………………………………………………ii
HALAMAN MOTTO ………………………………………………………………iii
HALAMAN
PERSEMBAHAN…………………………………………………….iv
KATA PENGANTAR………………………………………………………………v
DAFTAR ISI………………………………………………………………………..vii
BAB
I. PENDAHULUAN………………………………………………………..1
A.
Latar Belakang Praktik Kerja Industri……………………………….. 1
B.
Tujuan Praktik Kerja Industri…………………………………………2
C.
Tujuan Pembuatan Laporan Praktik Kerja Industri…………………...2
D.
Sistematika Laporan Praktik Kerja Industri…………………………..2
BAB II. URAIAN UMUM…………………………………………………………4
A.
Sejarah Singkat Bengkel………………………………………………4
B.
Struktur Organisasi……………………………………………………4
C.
Pembagian Tugas……………………………………………………...5
D.
Denah/Lokasi Bengkel………………………………………………...6
BAB III. URAIAN
KHUSUS……………………………………………………….7
A.
Dasar Teori…………………………………………………………….7
B.
Pembongkaran, Pemeriksaan, Pemasangan dan Perawatan
atau
Perbaikan……………………………………………………………...19
C.
Trouble Shooting……………………………………………………...25
BAB IV. PENUTUP………………………………………………………………...28
A.
Kesimpulan……………………………………………………………28
B.
Saran…………………………………………………………………..28
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….30
LAMPIRAN………………………………………………………………………....31
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………..32
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Praktik Kerja Industri
Pada
dasarnya, Praktik Kerja Industri merupakan salah satu syarat yang harus
dipenuhi bagi semua siswa Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Karangmojo
untuk mengikuti Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Akhir Nasional. Selain itu,
persaingan di dunia kerja menuntut siswa Sekolah Menengah Kejuruan untuk trampil pada keahliannya masing-masing,
karena seseorang yang mau bekerja harus ahli dibidangnya dan mempunyai
pengalaman kerja atau magang, dan juga dituntut untuk bekerja secara
professional dan bisa mengembangkan ketrampilan, mutu dan waktu pengalaman
kerja.
Kualitas tenaga kerja dapat
dtingkatkan melalui pendidikan professional, sedangkan pendidikan professional
dapat diperoleh dengan melaksanakn Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yaitu di
sekolah dan sebagian di dunia kerja/dunia industri.
Pihak industri diharapkan dapat
membantu sekolah dan berperan aktif dalam loyalitas kegiatan belajar mengajar
baik di sekolah maupun di industri mulai awal sampai akhir tahun pelajaran yang
diantara lain mengikuti kegiatan:
1.
Pengembangan atau penyusunan program/kurikulum.
2.
Seleksi siswa.
3.
Sistim evaluasi.
Dengan beberapa hal diatas perlu
dilakukan beberapa usaha yang melibatkan semua pihak khususnya sekolah yang
menjadi lembaga, menyiapkan lulusan sekolah sebagai lulusan yang unggul dan
umumnya pada dunia usaha sebagai tempat pelaksanaan kegaitan. Diantaranya adalah
Pendidikan Sistem Ganda dalam Praktik Kerja Industri baik guru maupun peserta
didik. Praktik Kerja Industri ini dilakukan atau dilaksanakan oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan sebagai bimbingan
dari sekolah yang mendampingi siswa dalam melaksanakan Praktik Kerja Industri.
B. Tujuan
Praktik Kerja Industri
1.
Kegiatan praktik kerja industri bagi siswa bertujuan
sebagai berikut:
a.
Agar siswa dapat menambah pengalaman selama
melaksanakan praktik kerja industri.
b.
Agar siswa dapat melatih kerja guna masa depan.
c.
Agar siswa dapat menambah kepandaian yang di dapat di
sekolah maupun di dunia industri.
2.
Kegiatan Praktik Kerja Industri bagi sekolah bertujuan
sebagai berikut:
a.
Agar sekolah dapat menyiapkan lulusan yang unggul, yang
berwawasan mutu, bisnis, kewirausahaan dan produktif.
C. Tujuan
Pembuatan Laporan Praktik Kerja Industri
Pada dasarnya banyak sekali tujuan
dalam penyusunan laporan Praktik Kerja Industri, tetapi tujuan utama dari
penyusunan laporan Praktik Kerja Industri adalah sebagai berikut:
1.
Sebagai syarat kenaikan kelas.
2.
Menindak lanjuti program sekolah yaitu Praktik Kerja
Industri selama 3 bulan.
3.
Sebagai bukti bahwa siswa telah melaksanakan Praktik
Kerja Industri sesuai dengan ketentuan sekolah.
4.
Sebagai bukti segala kegiatan yang dilaksanakan siswa
pada saat melaksanajan Praktik Kerja Industri.
5.
Sebagai bukti bahwa siswa telah mengikuti kurikulum.
6.
Sebagai bahan pertimbangan ilmu yang diperoleh di dunia
industri dan sekolah.
7.
Mendorong untuk berlatih disiplin dan bertanggung jawab
dalam dunia kerja.
D. Sistematika
Laporan Praktik Kerja Industri
Merupakan pengarahan dalam
penyusunan laporan setelah siswa melaksanakan Praktik Kerja Industri yang isinya
merupakan gambaran kegiatan selama melaksanakan Praktik kerja Industri. Adapun
susunan laporan secara sistematik adalah sebagai berikut:
HALAMAN JUDUL
HALAMAN
PENGESAHAN
HALAMAN
PERSEMBAHAN
HALAMAN MOTTO
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Praktik Kerja Industri
B.
Tujuan Praktik Kerja Industri
C.
Tujuan Pembuatan Laporan Praktik kerja Industri
D.
Sistematika Laporan Praktik kerja Industri
BAB II. URAIAN UMUM
A.
Sejarah Singkat Bengkel
B.
Struktur Organisasi
C.
Pembagian Tugas
D.
Lokasi/Denah Bengkel
BAB III. URAIAN KHUSUS
A.
Dasar Teori
B.
Pembongkaran, pemeriksaan, pemasangan dan perawatan
atau perbaikan
C.
Trouble Shooting
BAB IV. PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
BAB II
URAIAN UMUM
A. Sejarah
Singkat Bengkel
Pada akhir tahun 1980, Bapak Karbini
dengan semangat menempuh hidupnya dengan cara bertekad untuk membangun sebuah
bengkel. Bengkel ini melayani segala jenis mobil, mobil bermesin diesel maupun
bensin. Beliau membangunnya di atas tanah
seluas 70 m². Bengkel ini di bangun di samping rumah kerabatnya yang
beralamatkan di Jagalan, Kedek Pedan. Bengkel ini diberi nama Mini Motor.
Bengkel ini mempunyai 3 (tiga)
karyawan, diantaranya: Ahmad Zainudin Arifin, Agung, Melor. Bengkel ini berjalan
sampai sekarang. Namun pada akhir tahun 2007, lokasi bengkel ini dipindahkan ke
samping rumah Bapak Karbini sendiri yang beralamatkan di Pencil, Bendo, Pedan.
Namun karena kepindahan bengkel ini, bengkel itu, sekarang hanya tinggal
mempunyai satu karyawan. Jadi kalau ada pekerjaan yang banyak, Bapak Karbini
juga harus ikut turun tangan, tapi kadang-kadang karyawan yang sudah keluar
masih sering dipanggil untuk membantu.
Demikianlah sejarah singkat bengkel
“Mini Motor” hingga jadi sekarang ini. Semoga sejarah yang singkat ini menjadi
pengetahuan bagi pembaca.
B. Struktur
Organisasi
Bengkel Mini Motor ini adalah milik
perseorangan, karena dulunya bengkel ini hanya didirikan oleh Bapak Karbini
sendiri. Bengkel ini dibentuk sebuah struktur organisasi. Struktur organisasi
ini hanya terdiri dari Pimpinan kemudian Bendahara kemudian Sekertaris kemudian
Mekanik.

Gambar 2.1. Struktur organisasi
C. Pembagian
Tugas
Seperti skema di atas bengkel “Mini
Motor” ini mempunyai organisasi khusus dan pembagian tugas tersebut adalah
sebagai berikut:
1.
Pimpinan Bengkel adalah orang yang memimpin bengkel
tersebut dan yang bertanggung jawab atas pengambilan tindakan pada suatu
anggota bengkel dan berpengaruh terhadap maju mundurnya bengkel itu.
2.
Bendahara adalah orang yang bertanggung jawab terhadap
bagian pemasukan, pengeluaran, pembayaran dan pembagian hasil di bengkel
tersebut.
3.
Ketua Mekanik adalah orang yang mengatur dan
mengkoordinasi jalannya kegiatan di bengkel tersebut.
4.
Mekanik adalah orang yang bertanggung jawab sepenuhnya
atas semua pelayanan secara menyeluruh di dalam kegiatan sehari-hari di bengkel
tersebut.
Namun walaupun mempunyai jabatan yang berbeda, tapi semuanya juga terjun
sebagai mekanik kecuali Bendahara.
D. Denah/lokasi
bengkel
Jln.
ke Jln. ke
Klaten Klaten
![]() |
Pasar
Pedan
Jln. ke
|
dari
Cawas
Gambar 2.2. Denah/Lokasi bengkel
BAB III
URAIAN KHUSUS
SISTEM PENDINGIN
A. Dasar Teori
1. Pengertian
Sistem
pendingin air berfungsi sebagai pengatur temperature mesin dan memberi rasa
nyaman penumpang dengan adanya rasa sejuk. Agar pendingin bekerja secara
efisien, maka diperlukan servis dan perbaikan yang benar.
2. Sistem pendingin berfungsi:
- Mencegah panas yang berlebihan
- Mengatur suhu mesin
3. Jenis sistem pendingin
- Sistem pendingin udara
- Sistem pendingin air
4. Uraian
- Sistem pendingin mesin sangat diperlukan
Menurut neraca panas, pada motor bakar hanya akan
diperoleh 25% hasil pembakaran bakar yang dapat diubah menjadi energi mekanik.
Sebagian panas akan keluar melalui gas buang (kira-kira 34%), melalui sistem
pendinginan (kira-kira 32%) dan sisanya akan melalui kerugian pemompaan dan gesekan.
Gambar 3.1. Neraca panas pada mesin
Berdasarkan neraca panas di atas, maka fungsi pendinginan pada motor
menjadi penting, karena panas yang akan terserap oleh sistem pendinginan dapat
mencapai 32%.
Bila mesin tidak didinginkan maka
mesin akan mengalami panas yang berlebihan (over
heating) dan akan mengakibatkan gangguan-gangguan sebagai berikut:
1)
Bahan akan lunak pada suhu tinggi. Contoh: torak yang
terbuat dari logam paduan aluminium akan kehilangan kekuatannya (kira-kira
sepertiganya) pada suhu tinggi (300%), bagian atas torak akan berubah bentuk
atau bahkan akan mencair.
2)
Ruang bebas (clereance)
antara komponen yang saling bergerak menjadi terhalang bila terjadi
pemuaian karena panas yang berlebihan. Misalnya torak akan memuai lebih besar
(karena terbuat dari paduan aluminium) dari pada blok silinder (yang terbuat
dari besi tuang) sehingga gerakan torak menjadi macet.
3)
Terjadi tegangan termal, yaitu tegangan yang dihasilkan
oleh perubahan suhu. Misalnya cincin torak yang patah, torak yang macet karena
adanya tegangan tersebut.
4)
Pelumas lebih mudah rusak oleh karena panas yang
berlebihan. Jika suhu naik sampai 250°C pada alur cincin, pelumas berubah
menjadi karbon dan cincin torak akan macet sehingga tidak berfungsi dengan
baik, atau cincin macet (ring stick).
Pada suhu 500°C pelumas berubah menjadi hitam, sifat pelumasannya turun, torak akan
macet sekalipun masih mempunyai ruang bebas.
5)
Pembakaran tidak normal. Motor bensin cenderung untuk
terjadi ketukan (knocking).
Sebaliknya bila
motor terlalu dingin akan terjadi masalah, yaitu:
1)
Pada motor bensin bahan bakar akan sukar menguap dan
campuran udara bahan bakar akan menjadi gemuk. Hal ini menyebabkan pembakaran
menjadi tidak sempurna.
2)
Pada motor diesel bila udara yang dikompresi dingin
akan mengeluarkan asap putih dan menimbulkan ketukan dan motor tidak mudah
dihidupkan.
3)
Kalau pelumas terlalu kental, akan mengakibatkan motor
mendapat tekanan tambahan.
4)
Uap yang terkandung dalam gas pembakaran akan
terkondensasi pada suhu kira-kira 50°C.
- Sistem pendingin udara
1)
Pendinginan oleh udara secara alamiah.
Pada sistem ini panas yang dihasilkan oleh pembakaran
gas dalam ruang bakar sebagian dirambatkan keluar dengan menggunakan
sirip-sirip pendingin (cooling fins)
yang dipasangkan di bagian luar silinder (gambar 3.2). Pada tempat yang suhunya
lebih tinggi yaitu pada ruang bakar diberi sirip pendingin yang lebih panjang dari
pada sirip pendingin yang terdapat di sekitar silinder yang suhunya lebih
rendah.
Gambar 3.2. Pendinginan udara secara
alamiah
2)
Pendinginan oleh tekanan udara
Udara yang menyerap panas dari sirip-sirip pendingin
harus berbentuk aliran atau udara harus mengalir agar suhu udara di sekitar sirip
tetap rendah sehingga penyerapan panas tetap berlangsung sempurna. Hal ini
dapat dicapai dengan jalan menggerakkan sirip pendingin atau udaranya. Bila
sirip pendingin yang di gerakkan atau mesinnya bergerak seperti pada sepeda
motor. Pada mesin stationer aliran
udaranya diciptakan dengan cara menghembuskan melalui blower yang dihubungkan langsung dengan poros engkol (gambar 3.3) menunjukan
pendinginan udara menggunakan kipas/blower yang terpasang pada roda gila (flywheel fan), yang dianggap tidak
efisien karena tanpa pengarah aliran (shroud).
Agar aliran udara pendingin lebih dapat mendinginkan sirip-sirip digunakan
pengarah (gambar 3.4)
Gambar 3.3. Kipas udara pada roda gila
Gambar 3.4. Kipas pada roda gila dengan
pengarah aliran
- Sistem pendingin air
Pada sistem ini sebagian panas dari hasil pembakaran
dalam ruang bakar diserap oleh air pendingin setelah melalui dinding silinder.
Oleh karena itu, di luar silinder dibuat mantel air (water jacket). Pada sistem pendinginan air ini harus bersirkulasi.
Adapun sirkulasi air dapat berupa 2 (dua) macam, yaitu:
1). Sirkulasi alamiah/Thermo-syphon
2). Sirkulasi dengan tekanan
Pada sistem pendinginan air dengan sirkulasi alamiah,
air pendingin akan mengalir dengan sendirinya yang diakibatkan oleh perbedaan massa jenis air yang telah
panas dan air yang masih dingin (gambar 3.5). Agar air yang panas dapat dingin,
maka sebagai pembuang panas dipasangkan radiator (gambar3.6). Air yang berada
dalam mantel air dipanaskan oleh hasil pembakaran sehingga suhunya naik,
sehingga massa
jenisnya akan turun dan air ini didesak ke atas oleh air yang masih dingin dari
radiator. Agar pembuangan panas dari radiator terjadi sebesar mungkin, maka
pada sistem pendingin dilengkapi juga dengan kipas yang berfungsi untuk
mengalirkan udara pada radiator agar panas pada radiator dapat dibuang atau
diserap udara.
Gambar 3.5. Prinsip sirkulasi alamiah
Gambar 3.6. Sirkulasi alamiah di mesin
Pada sirkulasi dengan tekanan pada prinsipnya sama
dengan sirkulasi alam, tetapi untuk mempercepat terjadinya sirkulasi maka pada
sistem dipasang pompa air (gambar 3.7)
Gambar 3.7. Sirkulasi dengan tekanan
5. Proses
Pendinginan Pada Mesin
Pada mesin bensin maupun pada mesin diesel
proses pendinginan tergantung pada sistem pendinginan yang digunakan. Pada
pendinginan udara, panas akan berpindah dari dalam ruang bakar melalui kepala
silinder, dinding silinder dan piston secara konduksi. Selanjutnya yang melalui
dinding dan kepala silinder, panas akan berpindah melalui sirip-sirip (fins) dengan cara konveksi ataupun
radiasi di luar silinder.
Pada
pendinginan air secara alamiah, proses perpindahan panas/pendinginan melalui
perubahan massa jenis air yang menurun karena
panas selanjutnya air akan berpindah secara alamiah berdasarkan rapat massa sehingga terjadi
sirkulasi alamiah untuk pendinginannya. Untuk mempercepat pembuangan panas pada
sistem pendinginan air dipasangkan radiator. Melalui radiator ini panas akan
dibuang ke udara melalui sirip-sirip radiator. Pada pendinginan air dengan
tekanan, sirkulasi akan dipercepat oleh putaran kipas pompa sehingga sirkulasi
air pada sistem ini akan lebih baik.
6. Bahan tambah cairan pendingin
- Bahan pencegah karat
Bahan ini dibuat dari ras indibitor, adanya beberapa macam material yang digunakan pada
sistem pendingin mengakibatkan terjadinya karat pada logam. Karat merupakan
hasil reaksi antara dua logam yang berbeda (misalkan aluminium dengan besi).
Oleh karena itu, bahan pencegah karat harus digunakan pada sistem pendingin
terutama pada mesin-mesin kepala silinder yang terbuat dari aluminium. Bahan
karat akan semakin tidak efektif apabila semakin lama digunakan dan harus
diganti secara teratur.
- Bahan anti beku
Bahan ini terbuat dari alkhohol. Pada tempetature
dingin, air pendingin bisa membeku sehingga dapat mengganggu sistem kerja sistem
pandingin. Untuk mengatasi hal tersebut kadang-kadang untuk daerah yang bersuhu
dingin diperlukan tambahan cairan anti beku atau anti friser pada radiator.
7. Komponen- komponen sistem pendingin air
a.
Radiator
Radiator pada sistem pendingin berfungsi untuk
mendinginkan air atau membuang panas air ke udara melalui sirip-sirip
pendinginnya. Konstruksi radiator dapat dilihat pada (gambar 3.8).
Gambar 3.8. Konstruksi radiator
Konstruksi radiator terdiri dari:
1)
Tangki atas berfungsi untuk menampung air yang telah
panas dari mesin. Tangki atas dilengkapi dengan lubang pengisian, pipa
pembuangan dan saluran masuk dari mesin. Lubang pengisian harus ditutup dengan
tutup radiator. Pipa pembuangan untuk mengalirkan kelebihan air dalam sistem
pendinginan yang disebabkan oleh ekspansi panas dari aliran keluar atau ke
tangki reservoir. Saluran masuk
ditempatkan agak keujung tangki atas.
2)
Inti radiator (radiator
core) berfungsi untuk membuang panas dari air ke udara agar suhu air lebih
rendah dari sebelumnya. Inti radiator terdiri dari pipa-pipa air untuk mengalirkan
air dari tangki atas ke tangki bawah dan sirip-sirip pendingin untuk membuang
panas air dalam pipa-pipa air. Udara juga dialirkan diantara sirip-sirip
pendingin agar pembuangan panas secepat mungkin. Warna inti radiator dibuat
hitam agar perpindahan panas radiasi dapat terjadi sebesar mungkin. Besar
kecilnya inti radiator tergantung pada kapasitas mesin dan jumlah pipa-pipa air
dan sirip-siripnya.
3)
Tangki bawah berfungsi untuk menampung air yang telah
didinginkan oleh inti radiator dan selanjutnya disalurkan ke mesin melalui
pompa. Pada tangki bawah juga dipasangkan saluran air yang berhubungan dengan
pompa air dan saluran pembuangan untuk membuang air radiator pada saat
membersihkan radiator dan melepas radiator.
b.
Tutup radiator
Tutup radiator berfungsi untuk menaikkan titik didih
air pendingin dengan jalan menahan ekspansi air pada saat air menjadi panas
sehingga tekanan air menjadi lebih tinggi dari pada tekanan udara luar.
Disamping itu pada sistem pendingin tertutup, tutup radiator berfungsi untuk
mempertahankan air pendingin dalam sistem meskipun dalam keadaan dingin atau
panas. Untuk maksud tersebut tutup radiator dilengkapi dengan katup pengatur
tekanan (relief valve) dan katup
vakum (gambar 3.9).
Gambar 3.9. Konstruksi tutup radiator
Cara kerja katup-katup pada tutup radiator adalah sebagai berikut:
Pada saat mesin
dihidupkan suhu air pendingin segera naik dan akan menyababkan kenaikan volume
air sehingga cenderung keluar saluran pengisian radiator. Keluarnya air
tersebut ditahan oleh katup pengatur tekanan sehingga tekanan naik. Kenaikan
tekanan akan menaikkan titik didih air yang berarti mempertahankan air
pendingin dalam sistem. Bila kenaikan suhu sedemikian rupa sehingga menyababkan
kenaikan volume air yang berlebihan, tekanan air akan melebihi tekanan yang
diperlukan dalam sistem. Karenanya air akan mendesak katup pengatur tekanan
untuk membuka dan air akan keluar melalui katup ini ke pipa pembuangan (gambar
3.10a)
Pada saat suhu air
pendingin turun akan terjadi penurunan volume, yang akan menyababkan terjadinya
kevakuman dalam sistem yang selanjutnya akan membuka katup vakum sehingga dalam
sistem tidak terjadi kevakuman lagi (gambar 3.10b). Sistem yang menggunakan tangki
reservoir, kevakuman akan diisi oleh
air sehingga air dalam system akan tetap (gambar 3.11). Bila sistem tidak
menggunakan tangki reservoir maka
yang masuk adalah udara.
Gambar 3.10. Kerja katup pengatur
tekanan dan katup vakum
Gambar 3.11. Radiator
dengan tangki reservoir
c.
Pompa Air
Pompa air berfungsi untuk mensirkulasikan air
pendingin dengan jalan membuat perbedaan tekanan antara saluran hisap dengan
saluran tekan pada pompa. Pompa air yang biasa digunakan adalah pompa sentrifugal. Pompa air ini digerakkan
oleh mesin dengan bantuan tali kipas (“V”belt)
dan pully dengan perbandingan putaran antara pompa air dengan mesin sekitar 0,9
sampai 1,3. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengalirkan air pendingin sesuai dengan
operasi mesin (gambar 3.12).
Gambar 3.12. Konstruksi pompa air
Pompa ini terdiri dari: (a) Poros, (b) Impeller, dan (c) Water Seal
d.
Kipas Pendingin
Kipas berfungsi untuk mengalirkan udara inti radiator
agar panas yang terdapat pada inti radiator dapat dipancarkan ke udara dengan
mudah. Kipas pendingin dapat berupa kipas pendingin biasa (yang diputarkan oleh
mesin) atau kipas pendingin listrik. Kipas pendingin biasa digerakkan oleh
putaran pully poros engkol. Poros
kipas biasanya sama dengan poros pompa air sehingga putaran kipas sama dengan
putaran pompa.
Pada kipas pendingin listrik digerakkan oleh motor
listrik akan menghasilkan efisiensi pendinginan yang lebih baik (terutama pada
kecepatan rendah dan beban berat) dan membantu pemanasan awal air pendingin
yang lebih cepat, penggunaan bahan bakar yang lebih hemat dan mengurangi suara
berisik (gambar 3.13).
Gambar 3.13. Penggerak kipas dengan
motor listrik
Adapun cara kerja kipas pendingin listrik sebagai berikut:
(Lihat gambar 3.14)
Gambar 3.14. Cara kerja sistem
pendingin listrik
Bila suhu air di bawah 83°C temperature
switch ON dan relay berhubungan dengan masa. Fan
relay coil terbuka dan motor tidak bekerja.
Bila suhu air pendingin di atas 83°C, temperature switch akan OFF dan
sirkuit relay ke masa akan terputus. Fan relay tidak bekerja, maka kontrak
poin merapat dan kipas mulai bekerja.
e.
Katup Thermostat
Katup thermostat berfungsi untuk menahan air pendingin
bersirkulasi pada saat suhu mesin yang rendah dan membuka saluran dari mesin ke
radiator pada saat mesin mencapai suhu idealnya. Katup thermostat biasanya
dipasang pada saluran air keluar dari mesin ke radiator yang dimaksudkan agar
lebih mudah untuk menutup saluran bila mesin dalam keadaan dingin dan membuka
saluran pada saat mesin sudah panas.
Ada
2 tipe thermostat, yaitu tipe bellow
dan tipe wax. Kebanyakan thermostat
yang digunakan adalah tipe wax. Di
samping itu thermostat tipe wax ada
yang menggunakan katup by pass dan
tidak menggunakan katup by pass.
Gambar 3.15. Thermostat tipe wax
Cara kerja katup thermostat adalah sebagai berikut:
Pada saat suhu air pendingin rendah, katup tertutup
atau saluran dari mesin ke radiator terhalang oleh wax (lilin) yang belum memuai. Bila suhu air pendingin naik sekitar
80 sampai dengan 90°C, maka lilin akan memuai dan menekan karet. Karet akan
berubah bentuk dan menekan poros katup. Oleh karena itu posisi poros tidak
berubah, maka karet yang sudah berubah tersebut akan membawa katup untuk
membuka (gambar 3.16)
Gambar 3.16. Katup thermostat pada saat
suhu 80-90°C
Untuk menghidari terjadinya tekanan air yang tinggi
pada saat katup thermostat tertutup, pada saluran di bawah katup di buatkan
saluran ke pompa air yang dikenal dengan saluran pintas (by pass) (Lihat gambar 3.17).
Gambar 3.17. Thermostat dengan katup by pass
Cara kerja katup by pass dapat
di lihat pada sistem pendingin mesin pada saat dingin dan panas.
Pada saat mesin dalam keadaan dingin, cairan pendingin
saat mesin dingin katup utama thermostat oleh tekanan pegas, sedangkan katup by pass terbuka karena cairan pendingin
dapat bersirkulasi dengan dorongan pompa air melalui blok mesin dan kepala silinder.
Melalui rangkaian by pass, thermostat
yang membuka dan kembali pada pompa air sehingga dapat dihasilkan pemanasan
yang cepat.
Gambar 3.18. Arah aliran air pendingin
pada saat mesin dingin
Kemudian pada saat mesin mencapai temperature
kerjanya, sumbat lilin memuai dan mengarah ke cylinder thermostat sehingga
thermostat membuka dan pada saat bersamaan menutup katup by pass. Cairan pendingin mengalir melalui ramgkaian by pass menjadi tertutup sehingga
sirkulasi mengalir melalui thermostat ke radiator dan terjadi penyerapan panas
sebelum kembali lagi ke pompa air dan blok mesin.
Gambar 3.19. Arah aliran air pendingin
pada saat mesin panas.
B. Pembongkaran, Pemeriksaan, Pemasangan, dan
Perawatan atau Perbaikan
1. Jumlah air pendingin
a.
Periksalah jumlah air pendingin, harus mencapai lubang
pengisian.
b.
Jangan melepas tutup radiator saat mesin panas.
2. Kualitas air pendingin
- Periksalah karat atau kerak air di sekitar tutp radiator atau di leher pengisian radiator.
- Periksa air pendingin agar bebas dari air.
- Ganti air pendingin bila perlu.
3. Kebocoran Air Pendingin
- Pasang radiator cap tester (alat ukur) pada lubang pengisisan.
- Berikan tekanan pada sistem ± 11 kg/cm².
- Perikasa tekanan agar tidak turun, jika turun berarti ada yang bocor.
Gambar 3.20. Pemeriksaan tekanan
4. Penggantian Air Pendingin Pada Radiator
- Lepas tutup radiator dan buka tutup sumbatnya.
- Buang air pendingin ke bejana penampung.
- Hati-hati waktu memuang air yang panas.
- Semprot sistem pendingin hingga pada warna hilang, kemudian buang seluruh air pendingin.
- Isi penuh dan campur dengan bahan campuran pendingin.
- Hidupkan mesin dalam kondisi idle tertutup dan buka tutup radiator hingga gelembung udara akan keluar.
- Tambahkan air secukupnya.
- Pasang tutupnya, selanjutnya periksa kebocoran sambungan.
5. Tutup Radiator
- Klep tutup radiator
1)
Bersihkan kotoran, torak antara klep tutup radiator dan
kedudukan klep.
2)
Pasang tutup radiator, gunakan radiator cap tester dengan memberikan tekanan 0,9 kg/cm².
3)
Biarkan terjadi tekanan, jika tekanannya menurun
berarti ada gangguan.
Gambar 3.21. Pemeriksaan klep tutup
radiator
- Klep tekanan negative
1)
Tarik klep tekanan negative jika klep dibuka.
2)
Periksalah kerusakan pada logam yang bersentuhan atau perubahan
bentuk pada saat paking.
3)
Jika perlu gantilah tutup radiator.
Gambar 3.22. Pemeriksaan tutup radiator
6. Thermostat
- Melepas dan memasang thermostat
1)
Buang air pendingin hingga berjumlah di bawah rumah
thermostat.
2)
Lepaskan sesuai dengan urutan gambar,
a)
Selang atas dan klem pengikat
b)
Baut dan ring
c)
Tutup thermostat
d)
Gasket/perpak
e)
Thermostat
3)
Pada pemasangan tahanannya, kebalikan dari pelepasan.
Keterangan:
1)
Selang, klem
2)
Baut, ring
3)
Tutup rumah thermostat
4)
Gasket/perpak
5)
Thermostat
Gambar 3.23. Pelepasan thermostat
- Pemeriksaan
1)
Masukkan thermostat pada air dan panaskan secara
bertahap.
2)
Catat suhu bila thermostat mulai membuka penuh.
3)
Ukur tinggi angkatnya waktu thermostat terbuka penuh
a)
Suhu thermostat mulai membuka yaitu 74,5°C.
b)
Thermostat terbuka penuh antara suhu 80-90°C.
c)
Tinggi pembukaan adalah 8,0 mm atau lebih.
4)
Jika jauh dari limit standar di atas, gantilah
thermostat.
Gambar 3.24. Pengujian thermostat
7. Pompa Air
Keterangan:
1)
Boss pully
2)
Plat penyekat debu
3)
Snap ring
4)
Poros, speacer dan bearing
5)
Sudu
6)
Penyekat (seal)
7)
Bearing
8)
Speacer
9)
Bearing
10)
Ring
11)
Baffle plate
12)
Plat penyekat debu
3) Ring penyetop
Gambar 3.25. Cara melepas pompa air
a.
Membongkar Pompa Air
Melepas boss pully
Gambar 3.26.
Melepas pompa air
b.
Pemeriksaan pompa air pada kendaraan
1)
Periksa kebocoran pompa air dan kelonggaran poros serta
bearingnya dengan menggunakan
kipasnya.
2)
Bila pada bukti kendaraan gantilah bearing atau poros.
3)
Bila ada kebocoran dari rumah pompa, gantilah sekalian.
4)
Ganti pompa bila perlu.
Gambar 3.27. Pemeriksaan pompa air
c.
Pemasangan pompa air
1)
Memasang stop ring kedalam alur yang ada pada porosnya.
2)
Pasang plat penyekat debu pada porosnya.
3)
Putar baffle plat
pada astiup.
4)
Pasang poros pada rumah pompa dan tekan ke dalam bearing dengan sisi seal menghadap ke belakang.
5)
Pasang washer dan
letakkan speacer pada bearing gemuk.
6)
Pasang bearing
dengan sisi penyekat menghadap ke depan sehingga skep ring bias di pasang.
7)
Pasang skep ring.
8)
Pasang penyekat debu pada bearing, tekan boss pully
pada poros sehingga snap ring bias di pasang.
9)
Pasang penyekat debu pada bearing, tekan boss pully pada poros sehingga terdorong
oleh bagian depan poros.
10) Pres
sudut pompa pada porosnya sehinga terdorong ke ujung poros.
11) Putar
poros pompa dan pastikan poros berputar bebas dengan bagian luar sudut berada
pada rumah pompa.
13) Plat
penyekat debu
3) Ring penyetop
8. Tali Kipas Pompa Air
- Pemeriksaan
1)
Periksa kondisi tali kipas dari keausan, retak, dan
terkelupas. Ganti bila perlu.
2)
Pastikan tali kipas benar-benar terpasang pada alur pully.
3)
Periksa kelenturan tali kipas dengan memberikan tekanan
98 n.
4)
Defleksi tali kipas yang di ijinkan ± 11 mm.
- Penyetelan
1)
Bila perlu kendorkan baut alternator dan baut penyetelnya.
2)
Gerakkan alternator
ke dalam dan keluar untuk menyetelnya.
3)
Kencangkan bautnya.
Gambar 3.28. Penyetelan tali kipas
c.
Melepas dan pemasangan
1)
Buang air pendingin mesin
2)
Lepas sesuai nomor urut pada gambar
3)
Pasang kebalikan melepas
4)
Setelah pemasangan:
a)
Setel kelenturan tali kipas
b)
Isi air pendingin dan jalankan mesin sambil memeriksa
kebocoran
Keterangan:
1)
baut, ring
2)
kipas
3)
tali kipas
4)
pully
5)
mur, ring
6)
pompa air
7)
gasket/perpak
Gambar 3.29. Pemasangan tali kipas.
C. Trouble Shooting
Nama komponen
|
Keluhan
|
Solusi
|
Pompa Air
|
a.
Terjadi kebocoran pada seal pompa air.
b.
Pada rumah pompa terjadi kebocoran.
c.
Bearing terlalu longgar.
|
Ganti
Ganti
Ganti
|
Kipas
|
a.
Terjadi keretakan pada sirip kipas.
b.
Sirip kipas patah.
c.
Baut penjepit kipas hilang.
|
Ganti
Ganti
Ganti
|
Tali Kipas
|
a.
Terjadi keretakan pada tali kipas.
b.
Terjadi keausan pada tali kipas.
c.
Tali kipas terkelupas.
d.
Tali kipas terlalu kencang atau kendur.
|
Ganti
Ganti
Ganti
Setel
|
Radiator
|
a.
Pipa-pipa dan bagian yang disolder pada tangki atas
dan bawah kemungkinan bocor.
b.
Inti radiator tersumbat melebihi 20%.
c.
Selang radiator dan jika Ternya rusak.
d.
Air radiator kurang atau kwalitasnya sudah tidak
baik.
e.
Pada sambungan selang radiator terjadi kebocoran atau
klem kurang kencang.
|
Diperbaiki/diganti
Ganti
Ganti
Ganti/tambah
Kencangkan
|
Tutup Radiator
|
a.
Katup pengatur pada tutup radiator dan katup vakum
dari kemungkinan pegasnya yang lemah atau dudukannya kurang rapat. Katup
membuka pada tekanan di bawah harga spesifikasi atau ada kerusakan lain.
b.
Kerusakan pada logam yang bersentuhan atau perubahan
bentuk pada saat paking.
|
Ganti
Ganti
|
Thermostat
|
a.
Thermostat tidak bisa membuka penuh.
b.
Thermostat tidak bisa membuka pada suhu standar awal
membuka.
c.
Thermostat membuka dengan ketinggian kurang dari 8,0
mm.
|
Ganti
Ganti
Ganti
|
Tangki
reservoir
|
a.
Terjadi kebocoran pada tangki reservoir dan tutup
tangki reservoir pecah.
b.
Pipa penghubung antara radiator dan tangki reservoir
bocor.
|
Ganti
Ganti
|
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melaksanakan praktik kerja industri maka penulis dapat
menyimpulkan beberapa hal:
1.
Praktik kerja industri merupakan salah satu sarana
sekolah bagi siswa untuk melatih mental siswa melalui magang di dunia industri.
2.
Praktik kerja industri merupakan salah satu sarana
untuk memupuk keahlian.
3.
Dengan praktik kerja industri, maka siswa mampu
mengetahui kemampuan dirinya.
4.
Praktik kerja industri merupakan sarana untuk
menerapkan ilmu-ilmu dari sekolahan.
5.
Selain dari sekolah, siswa juga akan mendapat ilmu dari
dunia usaha.
6.
Setelah menyelesaikan laporan pratik kerja industri, penulis
dapat menyimpulkan:
a)
Laporan praktik kerja industri sebagai salah satu bukti
bahwa siswa telah melaksanakan Praktik Kerja Industri.
b)
Laporan Praktik Kerja Industri melatih siswa kreatif
setelah melaksanakan suatu kegiatan.
Kesimpulan dari sistem pendingin itu sendiri adalah:
1.
Sistem pendingin pada kendaraan berguna untuk menjaga
suhu mesin agar tidak mengalami suhu mesin yang berlebihan.
2.
Memberi rasa nyaman pada penumpang dengan adanya rasa
sejuk.
B. Saran-saran
1.
Untuk Sekolah
a.
Sekolah seharusnya memberikan bekal yang cukup bagi
siswa yang akan melaksanakan Praktik Kerja Industri.
b.
Sekolah hendaknya memberangkatkan serta menarik siswa
yang melaksanakan Praktik Kerja Industri secara bersamaan agar terlihat
kedisiplinannya.
c.
Sekolah hendaknya sesering mungkin mengunjungi siswa
Praktik Kerja Industri melalui guru pembimbing yang telah ditentukan.
2.
Untuk Dunia Industi
- Dunia industri harus memberikan pelayanan yang memuaskan pada konsumen agar tetap berlangganan di situ.
- Dunia industri hendaknya tepat pada waktunya agar konsumen tidak kecewa.
- Dunia industri harus mencari tempat yang sesuai agar dapat menjalankan bisnisnya dengan lancar.
3.
Untuk Para Siswa
- Siswa hendaknya berhati-hati dalam mencari tempat Praktik Kerja Industri
- Siswa yang menjalankan Praktik Kerja Industri harus patuh pada peraturan pada tempat itu.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1993. New Step 1 Training manual. Jakarta:
PT Toyota Astra
Motor. Training Center.
Suratman.M. 2003. Servis dan Reparasi Auto Mobil. Bandung: CV Pustaka
Grafika.
Mulyadi, Salihan. 2004. Perbaikan Chasis dan Pemindah Tenaga. Bandung: CV ARMICO.
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar
2.1. Struktur organisasi
Gambar
2.2. Denah atau lokasi
bengkel
Gambar
3.1. Neraca panas pada
mesin
Gambar
3.2. Pendinginan udara
secara alamiah
Gambar
3.3. Kipas udara pada
roda gila
Gambar
3.4. Kipas pada roda gila
dengan pengarah aliran
Gambar
3.5. Prinsip sirkulasi
alamiah
Gambar
3.6. Sirkulasi alamiah di
mesin
Gambar
3.7. Sirkulasi dengan
tekanan
Gambar
3.8. Konstruksi radiator
Gambar
3.9. Konstruksi tutup radiator
Gambar
3.10. Kerja katup pengatur
tekanan dan katup vakum
Gambar
3.11. Radiator dan tangki
reservoir
Gambar
3.12. Konstruksi pompa air
Gambar
3.13. Penggerak kipas
dengan motor listrik
Gambar
3.14. Cara kerja sistem
pendingin listrik
Gambar
3.15. Thermostat tipe wax
Gambar
3.16. Katup thermostat pada
saat suhu 80-90°C
Gambar
3.17. Thermostat dengan
katup by pass
Gambar
3.18. Arah aliran air
pendingin pada saat mesin dingin
Gambar
3.19. Arah aliran air
pendingin pada saat mesin panas
Gambar
3.20. Pemeriksaan tekanan
Gambar
3.21. Pemeriksaan klep
tutup radiator
Gambar
3.22. Pemeriksaan tutup
radiator
Gambar
3.23. Pelepasan thermostat
Gambar
3.24. Pengujian thermostat
Gambar
3.25. Cara melepas pompa
air
Gambar
3.26. Melepas pompa air
Gambar
3.27. Pemeriksaan pompa air
Gambar
3.28. Penyetelan tali kipas
Gambar
3.29. Pemasangan tali kipas
